SERGAP NTT - Thu, Jan 14th, 2016

Kajati NTT Diminta Periksa Kontraktor, KPA dan PPK Proyek Pelabuhan Batutua

Share This
NEWS
Terjadi selisih harga satuan dasar material dan kualitas proyek tidak seperti yang diharapkan. Penggunaan material lokal tanpa melalui uji lab. Akibatnya, 158 buah kubus beton yang dibuat menggunakan material lokal mulai mengalami keropos dan retak di sana-sini.

Terjadi selisih harga satuan dasar material dan kualitas proyek tidak seperti yang diharapkan. Penggunaan material lokal tanpa melalui uji lab. Akibatnya, 158 buah kubus beton yang dibuat menggunakan material lokal mulai mengalami keropos dan retak di sana-sini.

sergapntt.com, BA’A – Kualitas pekerjaan fasilitas pelabuhan (faspel) Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya, diragukan. Pasalnya, kondisi bangunan mulai mengalami kerusakan.

Padahal proyek yang dikerjakan PT. Siwa Prestasi Gemilang tersebut baru selesai dikerjakan. Hal ini diduga karena kontraktor menggunakan material yang tidak sesuai spesifikasi proyek.

Karena itu, mantan Kepala Desa Oebafok, Gerson Pandie, meminta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Provinsi NTT segera melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kontraktor, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Satuan Kerja Kantor Unit Penyelanggara Pelabuhan Baa – Rote Ndao Cristofel Kinbenu SE, dan Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) Leonard Ndolu, SH.

 “Rp 19 miliar adalah uang rakyat. Maka, kita minta Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Republik Indonesia atau Kejaksaan Tinggi NTT untuk turun periksa lapangan dan periksa kontraktor, KPA dan PPK,” pinta Gerson.

Kata Gerson, proyek faspel itu menggunakan material lokal yang diambil dari sekitar lokasi proyek. Padahal berdasarkan RAB Kementrian Dirjen Perhubungan Laut, material seharusnya didatangkan dari Jawa.

Akibatnya, terjadi selisih harga satuan dasar material dan kualitas proyek tidak seperti yang diharapkan. Apalagi penggunaan material lokal tanpa melalui uji lab. Akibatnya, 158 buah kubus beton yang dibuat menggunakan material lokal mengalami keropos dan retak di sana-sini.

Proyek Faspel Batutua Tahun 2015 dibiayai oleh APBN 2015 senilai Rp. 19.451.580.000. Biaya ini  tertera dalam DIPA Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut nomor: SP.DIPA022.04.2.521950/2015 dengan nomor kontrak: HK.107/176/VI/KUPP.BA’A-15.

Menurut Gerson, selain proyek tahun 2015, kondisi pekerjaan faspel Batutua 2014 juga sudah mengalami kerusakan pada sisi sayap kiri dan kanan dermaga. “Pekerjaan Tahun 2014 sudah selesai, tapi su retak dimana-mana,” bebernya. (Jhon Henuk)

RUANG DISKUSI - Mari Kita Saling Menghormati Satu Sama Lain. SILAKAN berdiskusi sesuai topik berita di atas. TERIMA KASIH. GBU All.