SERGAP NTT - Tue, Jul 28th, 2015

Kisah Heroik Anggota Polres Ngada Saat Menumpas Pasukan Muzakkar di Riung

Share This
NEWS
Pasukan Siliwangi 330 saat menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar, Februari 1965.

Pasukan Siliwangi 330 saat menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar, Februari 1965.

sergapntt.com, KUPANG – Mendengar nama Kahar Muzakkar, kita akan teringat dengan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di era tahun 50-an di wilayah Sulawesi Selatan.

Kahar Muzakkar lahir pada 24 Maret 1921 di Kampung Lanipa, Ponrang, Sulawesi Selatan. Awal pemberontakan Kahar bermula dari rencana Pemerintah membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya dileburkan ke masyarakat.

Rencana pemerintah itu ditolak Kahar. Ia menuntut agar KGSS dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan dalam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinannya. Tuntutan itu ditolak, karena banyak di antara anggotanya tidak memenuhi syarat untuk dinas militer.

Pemerintah kemudian mengambil kebijakan menyalurkan bekas gerilyawan tersebut ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Namun ia tetap menolak. Ia kemudian bersama pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan membuat kekacauan dimana-mana.

Kahar mengubah nama pasukannya menjadi TII dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953.

Selama bergerilya di hutan, Kahar beserta pengikutnya melakukan hal-hal menyimpang, diantaranya melakukan pembunuhan dan perampokan terhadap kaum bangsawan, dan hasilnya digunakan untuk membeli senjata.

Ini yang membuat pemerintah pusat marah besar. Ujungnya, TNI dari kesatuan Siliwangi 330 diperintahkan untuk menumpas pemberontakan Kahar dengan sandi operasi Tumpas. Hasilnya, 3 Februari 1965, Kahar dinyatakan mati tertembak. Namun hingga kini jasad atau pusaranya tidak diketahui keberadaannya.

Polres Ngada

Kahar Muzakkar

Kahar Muzakkar

Tahun 1959, saat pasukan TII terjepit dan perbekalan mulai menipis, Kahar mengirim sejumlah pasukannya ke Riung, Kabupaten Ngada. Disana mereka memeras, mencuri dan merampok harta milik warga, lalu dibawa ke Sulawesi. Mereka juga tidak segan membunuh jika ada warga yang melawan saat mereka beraksi.

Karena itu, Komando Resort (sekarang Polres) Ngada mengirim tiga pleton pasukan untuk menumpas pasukan Kahar Muzakkar di Riung. Pleton I dipimpin Samuel Ratoe Oedjoe,  Pleton II Yohanis Kila dan Pleton III dipimpin Thomas Toda.

Pada tanggal 30 Mei 1959, pasukan Pleton I dihadang pasukan Kahar Muzakkar di tepi sungai dekat pantai Nangarembo. Pertempuran terjadi selama 24 jam, dan salah seorang anggota Pleton I, yakni Brigpol Mohamad Meang gugur.

Brigpol Meang kemudian dinaikkan pangkatnya setingkat Aipda (Anumerta) dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia Bajawa pada 3 Juni 1959. Brigpol Meang adalah putera kelahiran Koting, Kabupaten Sikka.

Pasukan Pleton I terdiri dari Samuel Ratoe Oedjoe (Danton), Wempy BL de Rosari, Alex Kaitian, Andreas Ressi, Hermanus Welle, I Ngh Rembun, Johanes Purbam Benyamin Djouparu, Mozes Neu, Eduard Behi Djadi, Leo Lesu, Julius Ha’u Manu, AA Gd Astawa, Hubertus Sola, Mohammad Meang, Agustinus Gudang, I GST Gede dan Fredik Lassy.

Terima Kasih

Kapolda NTT, Brigjen Polisi Endang Sunjaya, S.H, M.H, melalui Kabid Humas Polda NTT, AKBP Ronalzie Agus, SIK mengatakan, jajaran Polda NTT sangat bangga dengan kisah perjuangan anggota Komando Resort Ngada itu.

“Kami semua jajaran Polda NTT yang masih aktif bangga dengan pendahulu kami. Ternyata mereka ikut perang mengatasi pemberontakan Kahar Muzakar,” ujar Agus.

“Kita bangga jadi penerus mereka yang cukup heroik, karena mereka membela NKRI. Ini jadi inspirasi untuk polisi sekarang ini bahwa tugas polri tidak sebatas kamtibmas tapi ikut mempertahankan NKRI dari segala tindakan yang ingin mengubah NKRI,” tambah Agus.

Dokumen Pleton Ratu Oedjoe

Jumat (26/6/15) lalu, Stef Ratu Oedjoe, Kepala Dinas Infokom Provinsi NTT yang juga anak dari Komandan Pleton (Danton) I,Samuel Ratu Oedjoe, menyerahkan sebuah dokumen tentang operasi penumpasan pasukan Kahar Muzakar di Riung kepada Polda NTT. Dalam dokumen itu terdapat sebuah foto kenang-kenangan Samuel Ratu Oedjoe dan kawan-kawan semasa hidup.

Jonathan Ratoe Oejoe, putra sulung Daton Samuel R Oedjoe, mengaku, saat operasi penumpasan pasukan Kahar Muzakkar di Riung, usianya masih 12 tahun. “Pada tahun itu usia saya 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Ayah saya bersama anggota polisi lainnya berangkat ke Riung untuk bertempur dengan gerombolan Kahar Muzakar di mana dalam pertempuran itu gugur seorang polisi bernama Mohammad Meang,” katanya.

Jonathan Ratoe Oejoe yang kini berdomisili di Kota Malang itu, menjelaskan, saat mengejar pasukan Kahar Muzakkar, Pleton I hanya bermodalkan senjata sederhana, yakni Jengle, Mozer, LE, Landfield, Bren MK-3 dan Pistol. [AL/IND/PK]

RUANG DISKUSI - Mari Kita Saling Menghormati Satu Sama Lain. SILAKAN berdiskusi sesuai topik berita di atas. TERIMA KASIH. GBU All.