SERGAP NTT - Wed, Feb 6th, 2013

Kronologi Pembunuhan Mantan Suster, Mery Grace

Share This
NEWS
suster GRACE Kronologi Pembunuhan Mantan Suster, Mery Grace

Mery Grace semasa hidup

sergapntt.com, KUPANG – Kasus pembunuhan terhadap Merry Grace alias Yosephine Keredok Payong tahun 2002 lalu, terungkap pada Januari 2013. Selama 10 tahun, pelaku Herman Jumat Masan alias Herder, memainkan isu kepada orangtua korban bahwa Merry Grace masih hidup dan bekerja di Kalimantan.

Herder, sarjana filsafat teologi itu berkenalan dengan Merry Grace sekitar tahun 1997. Keduanya kemudian bekerja di Desa Lela, Sikka, NTT. Mereka mengabdi di bidang kemanusiaan.

Simon Soge Ola (54) salah satu warga Adonara di Kupang, Selasa (5/2/2013), mengatakan, dari hubungan itu Merry Grace hamil. Merry kemudian dikeluarkan dari tempat dimana ia bekerja.

Atas bantuan Herder, Merry kemudian masih diperkenankan bekerja sebagai relawan di tempat itu, dan tinggal di asrama yang berdekatan dengan tempat Herder bekerja. Bayi laki laki itu lahir malam hari, saat suasana liburan sekolah, di kamar Herder. Tidak seorang pun tahu proses kelahiran itu.

Selama hamil, Merry dilarang ke mana mana, dan perutnya diikat kencang. Herder pun berusaha menutupi perbuatannya kemudian mencekik bayi itu lalu menguburkannya. Tempat penguburan bayi itu ditanami bunga mawar.

Hubungan Herder dan Merry Grace masih berlangsung. Tahun 2002 Merry Grace kembali hamil anak kedua. Herder minta digugurkan lagi. Proses pengguguran diusulkan di kamar Herder. Namun usulan itu ditolak Merry. Padahal, Herder telah membeli perlak (terpal) pengalas kasur untuk proses pengguguran dan pendarahan tertampung di dalam plastik.

Penolakan itu menimbulkan pertengkaran antara Merry dan Herder. Merry menilai tindakan itu tidak dibenarkan. Herder harus bertanggung jawab karena sudah dua kali menghamili Merry. Herder pun emosi kemudian mencekik leher Merry yang tengah hamil sekitar tujuh bulan. Pembunuhan ini terjadi pada hari libur, di mana para mahasiswa yang dibina Herder tengah libur.

Usai membunuh Merry, Herder menguburkan jenazah Merry bersama bayinya di lubang pembuangan sampah. Jenazah Merry dan bayinya dibungkus di dalam perlak (plastik) kemudian dikuburkan.

Usai penguburan, Herder kemudian menulis surat ke orangtua Merry di Adonara. Isinya antara lain, “Mama,,, tidak usah mencari saya karena saya pindah tugas di Jakarta. Nanti saya akan beritahu, tempat tinggal dan alamat baru saya.” Tertanda Merry Grace.

Namun, sejak itu orangtua tidak pernah dapat kabar sama sekali. Mereka terus melakukan pencarian. Setiap dilakukan pencarian, tiba tiba ada kabar, Merry sudah pindah di Kalimantan, dan terakhir tahun 2010 tersiar kabar Merry berada di Bandung, dan akan merayakan Natal di Adonara bersama orangtuanya.

Ternyata isu bohong itu sengaja dimainkan Herder untuk mengelabui kecurigaan orangtua. Tahun 2006, Herder kemudian pindah tugas dari Lela di Kabupaten Sikka ke Hokeng, Kabupaten Flores Timur, menangani perusahaan milik Keuskupan Larantuka.

Akan tetapi, Herder dinilai tidak jujur mengelola keuangan perusahaan. Ratusan juta rupiah uang milik Keuskupan Larantuka hilang. Herder lalu dipindahkan ke Kalikasa, Lembata. Ia menolak, dan kemudian mengundurkan diri sebagai anggota Keuskupan Larantuka.

Setelah meninggalnya Merry, Herder membina hubungan khusus dengan seorang gadis di Maumere, Sofi namanya. Ia berjanji menikahi gadis itu setelah keduanya membangun rumah di kampung Herder di Lamahelan, Adonara. Rumah pun dibangun tahun 2010. Sofi berperan besar dalam proses pembangunan itu.

Akan tetapi, orangtua Herder tak setuju dengan rencana perkawinan itu mengingat utang Herder sudah ratusan juta. Utang itu untuk kepentingan Herder selama kuliah sampai bekerja. Tahun itu juga Sofi pulang ke Maumere. Ia lalu menghubungi Herder, apakah hubungan mereka masih dilanjutkan atau tidak, ternyata Herder mengatakan tidak lagi.

Sofi marah dan kemudian melaporkan tindakan bejat Herder membunuh Merry dan kedua anaknya itu ke sejumlah pejabat keagamaan di Maumere. Namun laporan itu tidak ditanggapi. Tahun 2011, saudara Merry bernama Pit Payong pulang tugas kemanusiaan dari Filipina dan bekerja di salah satu lembaga swasta di Maumere.

Sofi pun melaporkan kasus ini kepada Pit, tetapi Pit juga tidak segera menindaklanjuti­nya. Ia minta orangtua adat di kampung Tanah Boleng dulu untuk membuat upacara adat, guna memastikan apakah Merry sudah meninggal dunia atau belum.

Akhir tahun 2012 hasil upacara adat yang disebut bau lolon itu menunjukkan, Merry sudah meninggal. Orangtua Merry kemudian melapor ke polisi di Maumere. Penggalian pun dilakukan atas petunjuk Sofi pada 27 Januari 2013. Sofi tahu mengenai pembunuhan dan tempat penguburannya karena Herder berulang kali membawanya berdoa di tempat tersebut. Sesuai kesaksian Sofi, saat berdoa di taman bunga itu, Herder menyampaikan permohonan maaf berulang kali kepada Merry dan bayinya.

Andai saja, Herder menikahi Sofi, kasus pembunuhan ini mungkin tidak akan terungkap. Sofi melaporkan kasus ini ke semua pihak, termasuk keluarga Merry karena merasa dikhianati Herder.

Penggalian makam pun dilakukan pada hari Minggu 27 Januari 2013. Di tempat itu ditemukan perlak (plastik), rambut, tulang belulang, gigi, dan cincin milik Merry. Kawat yang dipasang pada gigi Mery oleh seorang perawat gigi di Lela masih tampak utuh, cincin emas milik korban dengan tulisan “MG” masih ada.

Sekarang, orangtua korban sudah berada di Maumere. Sedangkan tes DNA sedang dilakukan di Denpasar, namun sejumlah alat bukti sudah mengarah pada Herder.

“Kami sudah tetapkan Herman Jumat Masan alias Herder sebagai tersangka. Alat bukti sudah kuat. Dia sudah mengakui perbuatannya,” kata Kasat Reskrim Polres Sika AKP Achmad.

by. cs/jokel

RUANG DISKUSI - Mari Kita Saling Menghormati Satu Sama Lain. SILAKAN berdiskusi sesuai topik berita di atas. TERIMA KASIH. GBU All.
Tiffany Mchelle says:

biarlah Tuhan yang menghukum dia…
kita serahkan semua ke pihak yang berwajib..
jangan main hakim sendiri yah guys!
semoga tidak ada yang ngelakuin hal yang sama lagi

Anak Adonara says:

Ya Tuhan….ampunilah mereka karena mereka semua adalah korban…
kalau tidak bisa menjaga sakramen imamat kalian maka tolong jangan terima sakramen itu, karena hanya akan membunuh iman umat kristiani di seluruh dunia ini….

paulus nyo da silva says:

Biarkan Dia menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya.qta tgu keputusan hakim hari senin tgl 19 agustus 2013 NANTI.ITULAH JAWABAN ATAS DOSANYA.

FLORENTINA says:

herder kamu harus bertangung jawab atas perbuatanmu, mana hati nuranimu,,,,, kamu pantas dieksekusi mati. kalau perlu pihak dari keluarga merry yang eksekusi kamu.seorang herder aja tidak tega memakan/membunuh darah dagingnya tapi kamu emang herder yang paling bejat.

Eroz Nakfatu says:

Iman kita tidak tergantung dari individu-individu yang tidak menjalankan perintah Kristus. Iman kita senantiasa berpusat pada Kristus dan pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gereja. Kehidupan sebagian kaum klerus yang melakukan kesalahan bukanlah cara kehidupan yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja, bahkan justru bertentangan dengan apa yang diajarkan. Kalau kita senantiasa mencari kesempurnaan dari individu-individu, maka kemanapun kita pergi, kita akan senantiasa dikecewakan, karena semua institusi pasti mempunyai oknum-oknum yang salah. Jangan melupakan juga bahwa kita juga sering gagal untuk menjadi saksi Kristus.

chyrro says:

semoga arwah marry grace yg tak bersalah serta bayinya diterima disisi Allah Bapa Yg Mahakuasa

Kornelis Wiriyawan Gatu says:

Dijaman primitifisme, dimana manusia masih kekurangan pakaian pembungkus badan dan masih telanjang, mereka memiliki etika kehidupan yang luar biasa dan menjaga prinsip menghargai satu sama lain. Kini kita memasuki babak bari yakni modernisme yang telah dilengkapi dengan berbagai sarana. Pakaian yang berkelebihan hingga 10 lapis membungkus badan agar terhindar dari bencana, namun keadaan justeru lebih parah lagi. Olehnya, pembunuhan terhadap Mery Grace oleh Herder merupakan akibat dari “gagalnya pembangunan karakter, etika dan moral”. Semuanya telah mengalami telah mengalami kemunduran seolah kita lebih pantas hidup dijaman purbakala tanpa perlu pakaian tapi mengandung nilai etika yang luar biasa..Andai Herder keluar dari lingkaran komunitas keuskupan Larantuka dengan alasan sakit maka, kita pasti berpendapat bahwa Herder ” TIDAK ADA PANGGILAN”. Ini telah menjadi bahasa umum dan dapat dijadikan sebagai pembenaran. Masalah Herder bunuh Mery Grace ini, masih pantaskah kita mengatakannya sebagai”TIDAK ADA PANGGILAN”? Dalam konteks ini, dari seluruh aspek, Herder tetap “SALAH BESAR” karena tidak membuat keputusan diwaktu yang tepat. Artinya, mengapa Herder tidak mau “MENGUNDURKAN DIRI” sebelum menjadi Rm.Herder. Lantas, pantaskah Imamat Herder yang adalah mantan Rm. terus melekat dan dapat dicabut dengan”MISA PENCABUTAN IMAMAT” oleh Uskup?..Turut Berduka, Mery Grace!

elis says:

berita-berita ini terjadi pada tahun iman. ya…Tuhan mengapa semua ini terjadi?tantangan hebat bagi kita sebagai orang katolik disaat iman kita mulai tumbuh kuat dan kokoh. mudah2an semua ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita untuk lebih menghargai hidup kita dan orang lain. hidup itu mahal harganya

HERY AQUINO says:

sehebat apapun manusia pasti ada lemahnya… TUHAN Yesus sendiri mengalami pergulatan batin yang hebat di taman Getsemani… semoga kasus Herder menjadi reflesi yang mendalam bagi umat kristiani diseluruh dunia,,, khususnya di Flores NTT… untuk Herder sendiri,, nikmatilah talenta yg TUHAN berikan kepada mu, karena hanya mendapatkan satu, engko sampe hati menguburkannya… kepada mu tidak akan mendapatkan apa – apa…

ancik dor says:

tantangan iman terbesar kaum katolik abad ini…..Tuhan, Engkau tahu bahwa Merry korban percintaan….doaku, Ampunilah dosanya, dan terimalah dia di sisi MU di surga……buat Herber, seluruh umat MU tahu ya Tuhan, bahwa Engkau Maha penyayang, Maha Pengampun….sudah pasti Engkau mengampuni Herber, doaku…semoga Engkau memberikan keadilan atas pengampunan Mu itu padanya……

Roland says:

HUKUM MATI YANG PANTAS UNTUK “HJM”

Armijn Woda Kolo says:

“Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat 26 : 40 -41). Ketika urusan kedagingan menjadi prioritas hidup, maka kita menjadi tidak mampu bekerjasama dengan rahmat Allah. Sakremen Imamat kita campakan begitu saja, kita ingkari janji kita dihadapan Allah yang penuh Kasih, dan kita hidup dalam kebodohan “MENUKAR YESUS DENGAN HAWA NAFSU KEDAGINGAN”. Ketika satu perbuatan dosa kita lakukan maka dosa-dosa lainnya mengikuti termasuk membunuh(mortal sin). Mari kita berdoa bagi para imam, biarawan biarawati agar semakin teguh dalam imamatnya, memancarkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam perkataan dan perbuatan dan menjadi teladan bagi kami para awam. Dunia ini semakin liar, manusia kalau sudah tidak mengenal lagi simbol-simbol peradaban (makluk rasional) maka manusia ternyata sama seperti binatang. Tuhan Yesus Ampunilah dosa-dosanya.

Molas Keorkole says:

sungguh perbuatan yang sangat biadap yang dilakukan saudara helder yang telah membunuh dua jiwa anak kandungnya sendiri dan sekaligus membunuh mati isterinya si suster mary grace. kepada kepolisian, tembak mati saja dia dan jenasahnya dibuang di kandang buaya, tidak perlu melalui proses pengadilan lagi, karena saya khawatir, pengadilan dunia akan memutar-balikkan fakta yang telah terjadi hanya DEMI UANG.

willy manna says:

Herder @ iman katolikmu dmana? Bukankah gereja ada di hatimu?? Sedih mendengarnya, senang pengakuanmu, sungguh sangat tidak senang etikamu. Hai kmu merry & kedua anakmu, Allah bersamamu di surga kudoakan..

Bony says:

Dari tahun ke tahun kita selalu dihebohkan dgn berita kriminal di tanah terjanji Flores. Namun, yg paling sadis dan amoral adalh pembunuhan yg dilakukan oleh seorang yg lbh memahami nilai-nilai kemanusiaan dan nilai moral. sbg sesama rekan sepanggilan tentu hal ini sangat mencoreng nama baik Gereja dan Komunitas religius. kita yg dianggap sbg pelindung tp justru kita berbuat spt “pagar makan tanaman.” kepada siapa lg umat menaruh kepercayaan klo bukan kpd para gembala umat? semoga kasus ini mjd refleksi bg kita para calon gembala dan gembala umat dalam menapaki panggilan Tuhan. semoga kita tetap kuat dlm mengahdapi tantangan dunia dewasa ini. kami jg turut berduka cita atas meninggalnya saudari Merry Grace dan kedua janin di tangan manusia berdosa. semoga arwah2 mrk diterima di sisi Bapa di Surga.