SERGAP NTT - Thu, Jun 25th, 2015

Sambil Menangis Agus Bercerita Kepada Ibunya Tentang Kematian Engeline

Share This
NEWS
Agus saat foto bersama ibu dan kakak kandungnya.

Agus saat foto bersama ibu dan kakak kandungnya.

sergapntt.com, DENPASAR – Agus Tai Handamai (24) terlihat kaget saat masuk ke ruang rapat Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan ibu serta kakaknya di tempat ini.

Agus pun tak kuasa menahan tangis saat mendapati ibu dan kakaknya lusuh penuh tanya lantaran tak menyangka ia bisa terlibat kasus pembunuhan yang menyayat hati banyak orang. Ketiganya dipertemukan di ruang Ditreskrimum selama 1,5 jam pada Selasa (23/6/2015) siang.

Ibu kandung Agus, Kandokang Madik dan kakak sulung Agus, Hiwa Hamandoru sengaja didatangkan Polda Bali dari Kabupaten Sumba Timur pada Senin (22/6/15) untuk mencari tahu kebenaran apa dan siapa yang membunuh Engeline.

Saat bertemu dan duduk bersama, Agus langsung merebahkan kepalanya ke pundak ibunya sembari menangis. Ibunya pun balas merangkul Agus. Keduanya berpelukan selama 10 menit diiringi air mata. Kakak Agus, Hiwa Hamandoru yang duduk di kursi di belakang keduanya hanya bisa menyaksikan adegan haru itu.

Dalam rangkulan ibunya, dengan bercucuran air mata Agus meminta maaf kepada ibunya. “Mama saya minta maaf, selama ini saya berbohong. Sekarang saya mau jujur,” ucap Agus. Setelah itu, Agus berpaling ke arah kakaknya. Ia pun kembali menyandarkan kepalanya ke pundak kakak sulungnya itu sambil terus menangis dan meminta maaf.

Dalam pertemuan tersebut hadir Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Wadireskrimum) Polda Bali, AKBP Komang Sandhy, dan Kepala Satuan Reskrim Polresta Denpasar, Komisaris Polisi (Kompol) I Nengah Sadiarta.

Setelah suasana berangsur tenang, anak kelima dari 10 bersaudara itu diberi waktu untuk bercerita terkait ikhwal kasus pembunuhan terhadap Engeline Megawe. Agus pun bercerita dalam derai air mata.

Kata Agus pada ibunya bahwa dirinya tidak membunuh bocah delapan tahun itu. “Bukan saya yang bunuh Engeline,” ujar Agus sambil terus menangis.

Pria tamatan kelas III SD ini lantas bercerita, pada Sabtu (16/5/2015) sekitar pukul 07.00 Wita, ia seperti biasa menjalankan tugasnya memberi makan ayam di kandang bagian belakang kediaman Margriet di Jalan Sedap Malam 26 Denpasar. Saat itu, ia sempat melihat Engeline sedang memberi makan ayam di depan kamar Margriet.

Ia pun melanjutkan tugasnya mengepel kemudian memberi minum ayam. Setelah memberi minum ayam, Agus menuju kamarnya untuk mengambil peralatan kerjanya di antaranya, gergaji, palu, paku, dan parang. Tapi, Agus tak menemukan parang yang biasa digunakan saat bekerja.

“Saat sedang cari parang, saya dengar Engeline menangis histeris di kamar Margriet dan bilang `mama lepasin saya`. Nangisnya tidak begitu lama,” ujar Agus.

Sekitar pukul 09.00 wita, Margriet memanggil Agus ke kamarnya. Betapa kaget Agus ketika ia melihat Engeline telah terkapar bersimbah darah di lantai kamar Margriet. “Saya sempat rangkul anak itu. Dia tidak bergerak lagi, matanya juga dalam keadaan terbuka,” kata Agus.

Menurut Agus, Margriet lantas mengancamnya agar tidak memberitahukan keadaan Engeline itu pada siapapun. Jika terbongkar, Agus harus mengaku memperkosa dan membunuh Engeline.

“Kalau kamu sampai buka rahasia, kamu akan dibunuh sama orang-orangku, lalu dia berjanji beri uang Rp 200 juta itu pada tanggal 24 Mei. Kalau kamu sudah terima uang itu nanti, kamu kembali ke Sumba dan jangan pernah kembali ke Bali,” begitu menurut Agus tentang apa yang dikatakan Margriet kepadanya.

Kemudian, Agus diperintah mengambil tali, mengikat leher, dan membungkus mayat Engeline. Namun sebelum membungkus mayat, Margriet sempat menyuruh Agus memperkosa Engeline. Bahkan, Margriet yang membuka celana dalam Margriet.

Namun, Agus mengaku tidak memperkosa Engeline. Baju yang sedang dipakainya, menurut Agus, diperintahkan juga ditaruh di badan Engeline. “Saya lari ke kamar mandi ganti pakaian, lalu saya meletakkan baju dan celana saya di badan Engeline,” imbuh Agus.

Saat itu, baju yang digunakan Agus berwarna hitam dan jins pendek berwarna biru dengan tanda sobek di bagian sakunya. Kemudian, masih kata Agus, Margriet menyuruhnya mengambil tali di bawah lemari Engeline lalu, diikatkan ke leher Engeline.

Tak hanya itu, Agus juga disuruh membakar rokok. “Dia minta rokok yang saya hisap. Saya langsung buang. Lalu, Margriet mengambil rokok itu dan menyundutkannya ke badan Engeline,” kata Agus.

Agus diperintahkan pula untuk mengambil boneka di lemari Engeline. Setelah itu, Agus menguburkan Engeline di lubang yang telah disiapkan di belakang rumah Margreit. “Pada badan Engeline itu ada baju dan celana saya, boneka, kain merah, dan tali,” kata Agus.

Kuasa hukum Agus, Haposan Sihombing mengatakan bahwa keterangan Agus pada ibunya itu sesuai dengan apa yang diucapkan Agus pada penyidik pada 17 Juni dan pemeriksaan setelahnya. [adi/bali.tribunnews.com]

RUANG DISKUSI - Mari Kita Saling Menghormati Satu Sama Lain. SILAKAN berdiskusi sesuai topik berita di atas. TERIMA KASIH. GBU All.