Situasi di Perbatasan RI-RDTL Mulai Kondusif

sergapntt.com, KUPANG – Situasi di daerah perbatasan RI-RDTL pasca bentrok antara warga Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan warga Pasabbe, Distric Oecusse, Republica Democratika Timor Leste (RDTL) mulai kondusif.
“Kita sudah lakukan tindakan presuasif agar masyarakat tidak terprofokasi. Sekarang sudah mulai kondusif. Sudah tenang sekarang,” ujar Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda NTT, Willem Foni.
Kepada sergapntt.com, Willem mengatakan, kasus di Haumeni Ana sama seperti kasus yang terjadi di Naktuka, Kabupaten Kupang. Disana terdapat zona bebas seluas 14 hektar yang belum ada kesepakatan antara RI dan RDTL apakah wilayah ini masuk ke dalam wilayah RI atau RDTL.
Tapi secara sepihak RDTL ingin membangun gudang beras (dolog). Beruntung aparat TNI bertindak cepat. Akhirnya pembangunan dolog itu dihentikan.
“Sekarang mereka ganggu lagi di Haumeni Ana. Ini butuh sikap tegas Pemerintah Pusat. Karena ini sudah menjadi urusan negara. Kita sudah laporkan ke pusat,” kata Willem.
Sebelumnya warga Haumeni Ana dan Pasabbe terlibat baku lempar pada Selasa (31/7/2012) sore, sekitar pukul 15.00 WITENG.
Bentrokan itu dipicu oleh sikap RDTL yang secara sepihak membangun Kantor Imigrasi, Bea Cukai dan Karantina di wilayah perbatasan yang masih berstatus zona bebas.
Karena tak suka, warga Haumeni Ana lantas meminta aparat TNI di perbatasan untuk berkoordinasi dengan aparat keamanan RDTL agar aktivitas penggusuran tanah itu dihentikan. Sayang permintaan itu tidak digubris oleh RDTL. Tak pelak warga Haumeni Ana pun emosi dan langsung menghentikan aktivitas eksafator secara paksa.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, seketika terjadi aksi baku lempar dan saling tembak menggunakan katapel. Beruntung pertikaian ini bisa dilerai cepat oleh aparat kedua negara.
Ditengah aksi baku lempar, warga Haumeni Ana terlihat melengkapi diri dengan senjata tajam tradisional berupa parang, klewang, pisau, dan pentungan kayu. Tak ada korban jiwa dalam bentrokan ini.
Kepala Desa Haumeni Ana, Siprianus Asuat mengaku kesal dengan sikap masyarakat dan pemerintahan RDTL yang secara sepihak membangun fasilitas mereka di wilayah zona bebas.
Dia menuding ada oknum anggota Unidade Patrul Hamemento De Frontera (UPF) RDTL yang bertugas di pos perbatasan RDTL sebagai profokator hingga terjadi aksi baku lempar itu.
Asuat berharap pemerintah RI bisa bersikap cepat untuk membicarakan tentang batas wilayah kedua warga negara. Sebab, pertikaian sering muncul akibat batas negara yang belum jelas hingga kini.
by.atuis
![SERGAP NTT [Media Revolusi]](http://www.sergapntt.com/foto/2012/02/sergapntt.png)




















![Redaksi SERGAP NTT [Media Revolusi]](http://www.sergapntt.com/foto/2013/04/Facebook.jpg)
