Sonaf Niki-Niki Pernah Dibombardir Pasukan Sekutu

sergapntt.com, AMANUBAN – Sonaf Naek Niki-Niki letaknya sekitar 27 KM dari SoE, ibu kota Kabupaten TTS. Sonaf ini adalah Istana Raja Amanuban. Bangunan yang sarat nilai historis ini terletak di Niki-Niki, ibu kota Kecamatan Amanuban Tengah. Ada beberapa situs budaya yang penting peninggalan zaman raja-raja, yakni sebuah bangunan sonaf (istana raja), lopo agung dan lumbung kerajaan (kini tinggal puingnya), pekuburan raja-raja dan beberapa benda bersejarah lain yang masih tersimpan baik di dalam sonaf.
Bagi pengunjung yang pertama kali menginjakkan kaki di kompleks istana raja, kesan klasik tradisional langsung timbul saat melihat bangunan sonaf berlantai dua ini. Tiang-tiang kayu masih terawat, dengan tembok putih. Saat ini sonaf ini di diami Usif (Raja) Luis Nope, salah satu pewaris Kerajaan Amanuban. Di dalam istana raja ini tersimpan berbagai benda peninggalan “tempoe doloe” sebagai bukti sejarah (aveedence) seperti prasasti dari Gereja Katolik, chatacombe tertua di Pulau Timor yang terletak di Elo Abi. Ada juga prasasti dari Tunbesi yang ditulis dalam bahasa Spanyol (Prasasti-prasasti tersebut terbuat dari batu yang bertuliskan “DRB” dan “ANO 1709″ dengan bentuk bujur sangkar serta berukuran panjang 30 cm, lebar 31 cm dan tebal 13 cm).
Sonaf Naek Niki-Niki dibangun tahun 1915 sampai 1916 oleh Usif Noni Nope, Raja Amanuban ke XV. Pada awalnya Sonaf ini hanya beratapkan alang-alang dan berdindingkan “bebak” (pelepah kering yang diambil dari pohon gewang). Sonaf ini dalam bahasa setempat disebut Son La’at Atoni atau Son Hun (terjemahan bebas: tempat penginapan kaum raja). Sampai saat ini istana ini masih terlihat kokoh dan berwibawa. Setelah selesai membangun sonaf ini Usif Noni Nope mangkat. Jenazahnya disemayamkan di kompleks sonaf selama tiga tahun (1916-1919) dengan pengawetan memakai bahan cendana dan gaharu. Kala itu, gaharu dan cendana tumbuh subur di seantero wilayah Kerajaan Amanuban. Sementara sonaf yang dibangun bergaya modern seperti yang berdiri kokoh sampai saat ini, dibangun pada masa pemerintahan Usif PP Nope (1919-1946). Pada tahun 1934 seorang pria keturunan Tionghoa, namanya Li Busui disuruh oleh raja untuk merancang bangunan sonaf. Setelah selesai merancang, sonaf pun mulai dibangun dan baru selesai pada tahun 1936. Butuh waktu lama karena bahan bangunan seperti pasir harus diangkut dengan tenaga manusia dari Kolbano (jaraknya sekitar 80 km) dan kayu dipikul dari Tun Besi (sekarang wilayah Kecamatan Amanuban Timur).
Istana ini merupakan kediaman resmi Raja Amanuban XVI sampai Raja Amanuban XVII. Kerajaan Amanuban yang pertama berlokasi di kawasan seputar Gedung Gereja Sonhalan Niki-Niki, SD GMIT Niki-Niki I dan gedung Puskesmas Niki-Niki yang lama.
Selain sebagai kediaman raja, sonaf juga dipakai sebagai kantor kerajaan. Tahun 1915-1920 sempat dijadikan sebagai kantor bersama antara Kerajaan Amanuban dan Kerajaan Amanatun hingga akhirnya SoE ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Zuid Midden Timor (Kabupaten Timor Tengah Selatan) yang mengkoordinir dan mengawasi tiga Zelfbesturen Landscappen (swapraja) yaitu Amanuban, Amanatun dan Mollo. Pada masa Pemerintahan Raja Amanuban XVI, Usif PP Nope, dibangun lagi sebuah kantor Kerajaan yang baru dan dikenal dengan nama Isat Ta Naek (kantor kerajaan, sekarang tepat berada di kediamannya Yang Mulia Veotnai Rita Taolin). Selanjutnya pada 1957 atas inisiatif dan dengan dana sendiri, Usif Louis Nope membangun lagi Kantor Kerajaan Amanuban yang baru. Sampai saat ini, bangunan tersebut difungsikan oleh Pemda TTS sebagai kantor Camat Amanuban Tengah. Usif Louis Nope juga membangun rumah potong hewan yang eksis sampai saat ini di Niki-Niki.
Pada masa Perang Dunia ke II, Son Le’u Sona Naek Niki-Niki sempat dibombardir tentara Sekutu (Oktober 1943). Lubang bekas tembakan Sekutu masih dipelihara sampai saat ini, yakni di lantai satu dan dua sisi timur bangunan sonaf. Namun saat dibombardir, sonaf dalam kondisi kosong. Seluruh keluarga istana, menyingkir ke Bone, Sulawesi Selatan. Bone dianggap sebagai tempat yang paling aman dan terlindung dari ancaman Perang Dunia Kedua. Setelah sekutu, Jepang kemudian menduduki sonaf dengan dua alasan. Pertama, menjadikan sonaf sebagai tempat berlindung. Kedua, sebagai sumber utama ketersediaan bahan makanan dan logistik yang berlimpah bagi Pasukan/Tentara Jepang. Hal ini sangat dimungkinkan karena di sekitar alun-alun Istana Agung berdiri kokoh dua lumbung kerajaan yang penuh dengan bahan makanan.
by. run
![SERGAP NTT [Media Revolusi]](http://www.sergapntt.com/foto/2012/02/sergapntt.png)


















![Redaksi SERGAP NTT [Media Revolusi]](http://www.sergapntt.com/foto/2013/04/Facebook.jpg)

thx to info!
B PUNG sonaf na^ek ada ko snd?
snde ad!!! heehehe
ITU DATA TENTANG SONAF NAEK!! THU GAMBARNYA WAKTU MASIH RUMAH PERTAMA!!
au sele on he na poi bon.
>>bekas lubang tembakan masih dipelihara… perasaan ku besar di komplek tapi ga pernah ku lihat,…seblah mana ya…
>>Seluruh keluarga istana, menyingkir ke Bone, Sulawesi Selatan…. yang benar aja…. Bone yang dimaksud itu satu kampung yang tidak jauh dari Sonanin / makam raja skrg…. Daerahnya berada di balik bukit….ko bisa mngungsi smpai Sul-Sel ya….kwkwkwkwwk.
>>yg benar aja neh tulisan….
La nane hit bale ai tat???hahaha
bais mo'em Han na poibon….. heheheh
dan perjalanan ke Bone dengan jalan kaki..
Setahu saya di niki2 juga ada tempat namanya Bone bkn cuman Sel-Sel doang dan bisa tempuh dengan jalan kaki, benarkan ada Bone di niki2??? Lupa2 ingat wkwkwkwkw
syg….brarti rumah yg di niki2 tu kah yg bone daerah berbukit2….kan makam Raja di belakang rumah……
makanya sering masuk ke sonaf jangan hanya lewat saja terus tanya di narasumber yang jelas supaya dapat info yang jelas dan benar karena kalau salah narasumber berarti nanti kena BLIIIIIIIIIIUUUUUUUUUUUU
Raja Noni Nope ruled 1910 until died 7-12-1920.
Raja Noni Nope Naik Tahta menggantikan kakaknya Raja Bill Nope pada Tahun 1911 dan bukti sejarah dari proses itu adalah didirikannya Pasar Boibalan Niki-Niki pada tahun itu juga dan masih beroperasi hingga kini.
Raja Noni wafat pada Tahun 1916 dan disemayamkan selama 3 tahun hingga tahun 1919. Selama disemayamkan jasad Raja Noni Nope diawetkan dengan metode pengasapan dari kayu cendana dan kayu gaharu di Lopo Le’u (Lopo yang berada disisi kiri Istana Agung/Son Le’u Sona Naek Niki-Niki). Sedangkan Putra Mahkota Raja Petrus Pa’E Nope (Usi Pina) Naik tahta pada Tahun 1920 hingga 1946 lalu kemudian digantikan oleh Putra Mahkota Kerajaan Amanuban Raja Jhon Paul Le’u Nope (Usi Tata/Uis Anesit/Uis Manak Funu) sampai tahun 1949