SERGAP NTT - Wed, May 21st, 2014

Usai Diperiksa Jaksa, Bupati Sabu Raijua: Tidak Ada Yang Salah Dengan PLS

Share This
Marthen Dira Tome

Marthen Dira Tome

sergapntt.com, KUPANG – Rabu (21/5/14), sejak pukul 09.00 hingga 16.30 Wita, Bupati Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, kembali diperiksa sebagai saksi oleh penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT terkait kasus dugaan korupsi dana PLS tahun 2007.

Usai diperiksa, kepada sergapntt.com, Marthen menjelaskan, saat diperiksa, ia ditanyai; kenapa dana PLS di distribusikan melalui Forum Komunikasi Tenaga Lapangan Dikmas (FK-TLD) Provinsi NTT? “Saya jawab; saat itu, ketika akan menyalurkan dana melalui rekening kelompok, kita dihadapi masalah, yakni untuk dapat mencairkan uang di KPKN, setiap kelompok harus menyertakan nomor rekening dan NPWP. Nah bagaimana mungkin kelompok yang ada di Sabu Raijua sana, di Amfoang (Kabupaten Kupang) sana, datang ke Kota Kupang, bolak-balik hanya untuk urus rekening dan pajak. Jika demikian, maka habislah uang yang mereka terima nanti. Karena untuk menutupi biaya transportasi. Karena melihat kesulitan yang dihadapi kelompok itulah, maka kita membentuk forum. Melalui forum itu kelompok kemudian bisa menerima dana. Kita bentuk Forum itu, karena Juknis (Petunjuk Teknis) memungkinkan,” ujar Dira Tome.

Selain itu, Marthen juga ditanyai; kenapa pengadaan buku PLS tidak ditenderkan? “Saya jawab, dana PLS itu adalah dana blokgrand atau dana belanja. Bukan dana tender. Nah, dari jumlah dana bantuan yang ada, di dalamnya terdapat dana untuk pengadaan buku. Untuk paket A Rp2 juta dan paket B Rp4,5 juta. Sementara buku PLS tidak dijual bebas. Kelompok kesulitan mencari buku. Karena untuk membeliannya, kelompok harus pesan ke penerbit. Nah mana ada penerbit yang mau cetak buku dengan angka pembelian seperti dana bantuan yang kelompok terima? Tidak ada kan! Karena itu, dana untuk pembelian buku kita kumpulkan di forum. Setelah terkumpul semua, kita pesan ke penerbitnya. Dengan begitu baru penerbit mau cetak,” tegasnya.

“Setelah itu, saya ditanya lagi, kenapa pendistribusian buku terlambat sampai di kelompok? Saya jelaskan, pendistribusian tidak terlambat. Karena pendistribusian buku itu bukan mengikuti Tahun Anggaran, tapi mengikuti Tahun Ajaran (Sekolah). Disitu ada Berita Acara Serah Terima dari kelompok. Tinggal dilihat saja. Tidak ada yang salah dengan pengelolaan dana PLS ini,” katanya.

Menurut Marten, dana blokgrand PLS terbagi dalam dua macam, yakni blokgrand yang terkonsentrasi pada kegiatan seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan blokgrand yang tidak terkonsentrasi. “Dana yang tidak terkonsentrasi ini, semua orang boleh bebas mengajukan proposal meminta bantuan dana. Tapi kita lihat lagi, apakah proposal ini benar? Kelompok yang mengajukan proposal itu benar? Kalau semuanya benar, ya kita berikan dananya. Intinya, kita manfaatkan dana itu sesuai kebutuhan masyarakat. Semua ada bukti. Jika kurang percaya, turun ke kelompok, tanya mereka, terima atau tidak? Puas atau tidak,” tohoknya.

By. Chris Barera  
RUANG DISKUSI - Mari Kita Saling Menghormati Satu Sama Lain. SILAKAN berdiskusi sesuai topik berita di atas. TERIMA KASIH. GBU All.