SERGAP NTT - Fri, Aug 17th, 2012

Warga Ende Ramaikan HUT RI Ke 67 Dengan Menari Gawi

Share This
NEWS

GAWI Warga Ende Ramaikan HUT RI Ke 67 Dengan Menari Gawi  sergapntt.com, ENDE – Warga Ende-Lio di Kelurahan Paupire, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur meramaikan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi RI ke 67 17 Agustus 2012 dengan menari Gawi .

Tarian itu dilakukan secara bersama-sama, baik perempuan maupun laki-laki, sambil bergandengan tangan. Mereka terus berputar membentuk sebuah lingkaran spiral diringi lagu daerah setempat.

Mereka nampak larut dalam kegembiraan sambil sesekali bernyanyi mengikuti irama lagu. Selain saling memegang tangan dan hentakan kaki, para pria menambah semarak tarian kemerdekaan dengan berputar-putar, seperti kepala ular. Sedangkan penari wanita dengan lembut menghentakan kaki dan mengayunkan tangan.

Tarian Gawi adalah tarian massal sebagai ungkapan kegembiraan dan membawa pesan persatuan, kebersamaan, dan persaudaraan.

Gawi dalam bahasa Indonesia dapat disebut juga dengan kata, ‘TANDAK. Secara harfia kata tandak bermuara pada kata bertandak yang berarti Berkunjung, mengunjungi, menyatukan hati, langkah dan pikiran.

Makna inilah yang menjadi dasar untuk menyebut GAWI sebagai TANDAK dari daerah Ende Lio. Sama halnya dengan tandak tadi, dalam tarian gawi pun kita yang terlibat dalam ritual tersebut berkewajiban saling bergandengan tangan, menyatukan hati, hentakan kaki serta mempuyai pikiran yang sama disaat mengikuti tarian tersebut dan tidak boleh melepaskan tangan sampai upacara tarian gawi tersebut selesai. Selain itu, kita hanya dapat melepaskan tangan kita pada saat kita hendak beristirahat.

Tarian Gawi adalah satu – satunya tarian khas masyarakat Lio yang tertua dan dipimpin oleh seorang penyair yang ditunjuk para sesepuh adat. Dalam bahasa adat Lio penyair ini dapat disebut ‘ATA SODHA’.

Uniknya, untuk menjadi seorang penyair, seseorang harus mendapatkan Ilham secara khusus karena penyair (Ata Sodha) tidak boleh membaca teks atau catatan pada saat upacara gawi sedang berlangsung.

Ini berarti penyair tersebut harus benar – benar menguasai alur – alur bahasa adat ketika di nyanyikan dalam sebuah aliran lagu adat yang dikenal dengan ‘SODHA’.

Dalam Beberapa ritual adat Mbama, tarian gawi ini kerap diisi dengan ‘BHEA’ oleh para sesepuh atau dalam hal ini Mosalaki sebagai pemegang tampuk kuasa tertinggi didalam masing – masing wilayah persekutuan Lio.

BHEA, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti; Sebuah ungkapan bahasa adat Lio yang bersifat seruan untuk membangkitkan spirit sebagai tanda untuk menunjukan kebesaran, keperkasaan dan kemenangan.

Secara harafia jika didefinisikan Arti kata “Gawi” sebagai berikut; “Ga” Segan/sungkan. Sedangkan “Wi” artinya menarik, dalam arti menyatukan diri. Tarian ini adalah simbol faktual entitas yang merupakan daya pemersatu kalangan antara bangsawan dan kaum jelata etnik Ende Lio di masa lampau.

Filosofi tarian ini adalah merayakan ritual kehidupan, baik merayakan kelahiran, masa panen atau momen lainnya dalam kehidupan etnik Ende Lio. Salah satu tujuan dari upacara adat ini adalah ungkapan syukur atas segala nikmat dari Yang Kuasa.

by. lui/metrotvnews.com

Komentar ANDA?

DISCLAIMER : Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Untuk pengutipan berita wajib mencantumkan link portal SERGAP NTT.Terima Kasih. GBU